Rabu, 17 Agustus 2011

(GoVlog - Umum) Harapan, Impian, dan Realita


Vlog - Kali ini saya akan menceritakan pengalaman yang luar biasa (versi saya tentu, hehe). Perjalanan panjang yang saya tempuh dari Depok hingga Yogyakarta membawa kesan tersendiri untuk hidup saya. Kejadiannya sendiri cukup lama, sekitar 4 tahun lalu. Kisah ini bermula saat saya sedang melakukan perjalanan ke Jogja untuk keperluan akademik (atau dengan kata lain ngabisin duit orangtua, hehe) ke UGM, saat itu saya baru saja akan memasuki dunia kuliah.

Ketika itu saya berangkat dengan ber-kereta api-ria, asyik banget karena perjalanan seperti ini sebenernya menjadi hobi saya, terlebih berangkatnya di pagi hari sehingga membuat mata saya terus menatap dan menyaksikan alam sekitar, ya saya jadi bisa melihat pemandangan dari jendela kereta api.

Selama kurang lebih 9 jam on the rail dengan seorang diri alias sebatang kara, akhirnya saya sampai di Stasiun Tugu Jogja sesaat sebelum sholat Maghrib tiba, karena anggaran yang ada di saku saya sangat terbatas maka saya memutuskan untuk bermalam di Masjid DPRD Jogja sehingga saya tidak perlu merogoh uang saku dari kantong. Setelah saya selesai sholat maghrib, ternyata kondisi perut saya sudah menagih minta diisi maka saya langsung bergegas mendatangi warung pecel yang ada didepan masjid, hmmh yammy sekali ayamnya (tapi mahal). Ya sudahlah, saya sudah terlanjur duduk di bangku yang sudah disediakan gak mungkin juga saya membatalkan untuk tidak jadi makan hanya karena ayamnya mahal (mau ditaruh dimana wajah saya??). Sembari nunggu pecel saya sempatkan membaca Al Quran beberapa lembar, ternyata disebelah saya ada orang bule, dalam hati sudah niat ingin ngobrol dan menyapa bule tersebut tapi mengingat ke-luar biasa-an saya dalam berbahasa Inggris ya saya gak jadi ngobrol alias gak PD, hehe. Akhirnya "ayam spesial nan mahal" yang saya nantikan datang dan tandaslah dalam sekejap mata.

Dari arah masjid, terdengar kumandang adzan Isya, langsung saja saya menyelesaikan transaksi yang menyangkut hajat hidup saya ini (mahal euy). Bergegaslah saya ke masjid dan ternyata saya sudah tertinggal 1 rokaat. Saya pun berdiri di shaf ke-2. Tanpa merasa curiga, saya langsung taruh tas di belakang kaki saya persis, saya pikir ini kan masjid mana mungkin ada maling berkeliaran didalam masjid. Akhirnya sholat pun selesai dan ketika saya hendak mengambil Al Quran dengan cara memutar tubuh saya ke arah kanan (karena memutar kiri itu dilarang) dan yang terjadi adalah saya terperanjat pinang-lah!! Dan spontan saya berteriak :

"TAS SAYA ILANG!!!! TIDAK!!!"

Antara kaget-malu-marah-sebel-bingung, saya langsung celingak-celinguk nyari tas, wajarlah, karena saya sebatang kara di Jogja, ah papa kenapa nasibku begini? Langsung saya telepon orang di Jakarta, saya sudah sangat pesimis berada di kota orang terkena musibah pula dan minta pulang, tapi kata papa, lanjutkan perjuangan saja. Yah, dengan sedikit air mata di mata saya (yaiyalah, masa mata orang?) saya tetap bertahan di Jogja. Beruntung, HP dan dompet saya taruh di saku celana, tak terpikir bagaimana kalau saya taruh di tas juga, mau jadi apa saya di Jogja?

Tanpa pikir panjang dengan wajah yang sedikit memelas kemudian saya langsung menghubungi pengurus masjid dan meminta izin untuk menginap di masjid sembari meminta diantarkan ke kantor polisi untuk membuat surat berita kehilangan. Sepertinya akan panjang urusannya, pikir saya dalam hati. Sebenarnya dalam kondisi seperti itu saya masih terus berfikir “bener ga sih tas gue ilang” Tapi ini realita!! Di masjid pun masih ada maling, apalagi di luar sana..

Sebenarnya sih tas saya ga penting-penting banget, tapi jadi penting karena isinya itu, duh bikin nyesek banget deh mikirinnya. Akhirnya saya bergegas ke kantor polisi untuk mengurus semuanya. Kalau ga salah isi tas saya yang telah raib diambil tangan-tangan yang tak bertanggung jawab itu antara lain:

1. Baju salin dan kawan2nya (tau lah)

2. Walkman (gila jadul amat saya ya?hehe)

3. Buku latihan soal (yang sebenarnya ga pernah dibaca, tapi cuma diunjuk-unjukkin
doank ke temen2 saya di sekolah, hehehe)

4. Uang 3000 perak

5. Buku Dialog Peradaban (Anis Matta-Ary Ginanjar)

6. Dan yang paling penting ---> Kartu Tanda Peserta Ujian !!

Nah, sebenarnya yang ke-6 itulah yang paling penting dan bodohnya saya lagi, saya taruh itu di dalam tas!! Dan jadilah saya ke kantor polisi untuk membuat surat berita kehilangan kartu itu. Arghhhh tidak!!!,,

Selama dalam perjalanan menuju kantor polisi, saya mengobrol dengan bapak pengurus masjid yang baik hati ini, dari logatnya tampaknya beliau bukan asli dari tanah Jawa dan ketika saya tanyakan ternyata benar, beliau dari Sumatera. Ikut JT (kelompok kaum muslimin yang berjuang untuk memakmurkan masjid, barokallah Pak) dan akhirnya menetap di Jogja sudah 4 tahun (kalo ga salah inget,hehehe). Ditemaninya lah saya juga ke toko pakaian untuk membeli baju untuk ujian dan alat-alat tulis. Makasih banged ya Pak? Semoga Bapak selalu dirahmati Allah, aminn.. (dan maaf Pak, saya lupa nama Bapak, hehehe). Saya juga selalu dinasihati agar selalu berhati-hati dimanapun agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi menimpa saya. Dan akhirnya surat tanda kehilangan itu pun jadi...

Sebenarnya sih menurut saya, posisi tas yang saya taruh di belakan kaki saya persis sudah mengikuti prosedur yang ada, dalam artian bahwa saya pasti bisa merasakan adanya perubahan dalam pergerakan tas bila terjadi, yah mungkin kondisi Masjid yang terletak di daerah Jogja yang terkenal se-antero dunia (Malioboro) dan juga saya yang sotoy (apa lagi ini?) dan ngeyel (??), maka hilanglah barang-barang yang bersatu dalam tas saya itu.

Sepulang dari kantor polisi, sekitar jam 9 malam, tibalah 2 sosok pemuda yang turun dari kendaraan yang kemudian diparkir di pelataran parkir masjid, ternyata mereka dari Solo (kalo g salah) dan tujuannya sama dengan saya: hendak mengikuti ujian juga. Maka jadilah kami bertiga menginap di masjid. Ya setidaknya kehadiran mereka membuat saya tidak merasa menjadi sebatang kara. Saat itu saya sempat ngerasa bosen juga di masjid dan akhirnya sekitar jam 11 kami lompat pagar masjid (hehehe, bandel yaa?) dan jalan-jalan melihat-lihat Malioboro kala malam, setidaknya itu semua mengurangi beban dan kesedihan yang saat itu menimpa diri saya. Ahhh seandainya saya bisa seperti ini dengan teman-teman akrab saya.... Oiya, saya juga membeli tas kecil sekedar untuk menyimpan alat2 tulis dan lain2 maklum tas ransel yang saya bawa sudah menjadi milik orang lain sekarang alias di CURI!! Dan setelah itu kembali ke masjid (atau lebih tepatnya kompleks DPRD Jogja) kemudian tak lama kami terlelap meskipun ga lelap-lelap amat, banyak nyamuk sih, hehehe

Peristiwa di Jogja membuat saya berfikir bahwa harapan, impian dan realita terkadang tak berjalan seiringan, pasti ada hambatan di depan mata. Buat saya, Allah telah menggariskan jalan hidup saya. Dan juga tercipta sebuah keadaan dimana saya dapat memilih BAGAIMANA saya mencapai garis hidup saya itu.. sekarang tidak ada yang perlu saya sesali, semua akan indah pada waktunya.

Nb: Psssttt....akhirnya saya tidak jadi kuliah di Jogja, karena saya ternyata dapat kuliah di Jakarta...hehe

Rabu, 09 Februari 2011

Sedang Apa Anda ?

Kita dan Korupsi

Saya bingung. Bingung harus memulai dari mana. Ketidaktahuan saya akan banyak hal berakibat saya bingung harus menulis apa. Menulis sesuatu yang tidak saya pahami maksudnya membuat saya gentar. Terlebih tentang korupsi. Arti kata korupsi saja, saya tidak tahu. Aih, bingung sekali saya.
Setelah googling di internet ternyata kata korupsi berasal dari bahasa Latin yaitu corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok. Secara harfiah korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus|politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Nah, berarti manusia yang melakukan tindakan korupsi itu artinya dia orang yang busuk? (silahkan pilih sesuai pilihan Anda dari pilhan jawabab yang ada diatas).
Lalu, apakah korupsi itu harus berhubungan erat dengan hal-hal yang menyangkut dengan kekuasaan atau yang berhubungan dengan unsur pemerintahan? Tentu tidak kan? Selama kita masih mengaku memiliki akal dan pikiran, kita masih berkesempatan untuk melakukan perilaku korupsi itu. Tapi bagusnya tentu dihindari, karena yang berkaitan dengan korupsi pasti tidak baik dan merugikan.
Perilaku korupsi yang mungkin yang paling sering kita dengar sepertinya korupsi waktu, yang bisa dilakukan oleh siapapun dan dimanapun, tak kenal jabatan dan pangkat serta status. Sebagai contoh; seorang teman saya pernah bercerita tentang rutinitas kerja di kantor Ibunya, disana para pegawai mulai masuk jam 8 lalu beristirahat pada jam 12 sampai jam 1 siang, itupun selama 4 jam tidak berjalan secara maksimal karena lebih sering dipakai mengobrol dan kegiatan-kegiatan yang cukup tidak jelas. Kemudian selepas istirahat setelah jam 1 mereka mulai bekerja lagi sampai waktu pulang jam 3 sore. Tapi sebenarnya antara jam 1 sampai waktu pulang itu justru lebih banyak berdiam dan beristirahat, sebuah kebiasaan majemuk orang Indonesia setelah makan siang. Padahal kantornya itu memegang peranan cukup penting di Indonesia tercinta ini, kalau model kerja pegawainya seperti itu bagaimana dengan pelayanan yang diberikan? Pasti akan jadi tidak maksimal kan? Kalau sudah begini entah harus menyalahkan siapa. Salah manusianya? Salah tempat kerjanya? Salah atasannya? Salah budaya kerjanya? Ataukah salah budaya bangsanya?
Omong-omong soal budaya, ada cerita yang ingin saya bagi. Sering timbul di benak saya : sebenarnya bagaimana sih budaya bangsa Indonesia itu? Kalau yang diajarkan di sekolah oleh guru biasanya; “Nak, jadi anak yang sopan ya? Jangan songong dan harus hormat ke siapa saja.”
Terus saya jadi bingung nih kalau berbicara soal budaya bangsa Indonesia yang katanya mengedepankan etika dan sopan santun. Maka menjadi wajar saat saya bingung lantaran saat heboh-hebohnya kasus perampokan uang negara sebesar Rp. 6,7 T melalui Bank Century dan di gedung DPR sana ketika Pansus Century memeriksa para saksi terkait perampokan itu tiba-tiba jadi ada yang sering mengumbar kata eika dan kesopanan. Tentu yang berbicara etika dan kesopanan itu adalah orang yang memiliki kapasitas untuk berlaku sopan dan penuh etika, sebab hanya orang naïf lah yang berbicara etika dan sopan santun di satu waktu, tapi berkelakuan yang berlainan dengan etika dan sopan santun di waktu yang lain.
Saya sangat tertarik dengan salah satu artikel di Tabloid Monitor Indonesia edisi 81 Tahun II/20-26 Januari 2010 tulisan Adhie M Massardi dengan judul Etika Penyelenggara Negara. Inspiratif sekali isi artikelnya, betapa tidak, beliau memblejeti (mengupas) habis-habisan kata etika dan sopan santun yang telah dibawa ke dalam panggung politik dan kepemimpinan di negeri ini. Dituliskan bahwa etika dan kesantunan telah menjadi idiom baru politik bangsa kita setelah kata reformasi yang terlebih dahulu populer sejak tahun 1998.
Di sepanjang era “politik santun yang beretika” ini ternyata juga tidak menghasilkan apa-apa bagi rakyat kebanyakan. Malah di era ini, lahirlah Markus-markus (makelar kasus) macam Artalyta, Anggodo dan yang paling ter-anyar diungkap; Gayus Tambunan. Bahkan untuk merampok uang Negara Rp. 6,7 T saja harus melalui rapat terlebih dahulu, hingga dini hari malah. Aneh kan?
Karena sekarang adalah zamannya etika dan sopan santun, orang-orang jai gemar curhat masalah pribadinya. Saya pernah membaca satu artikel di sebuah majalah tentang kegemaran curhat P******* kita yang semakin mengkhawatirkan, karena yang di-curhat-kan tidak memiliki manfaat apa-apa untuk bangsa ini. Bahkan cenderung ingin mengalihkan perhatian dari focus semula.
Lalu ada lagi cerita tentang etika dan kesantunan. Atas nama pencemaran nama baik, sang putra Pagar Alam dipanggil ke Trunojoyo untuk diperiksa terkait kasus penggelapan pajak Rp. 22 M yang melibatkan petinggi institusi yang berlokasi di Jl. Trunojoyo, Jakarta selatan tersebut. Banyak asumsi bahwa orang yang bercerita atau sekarang lebih dikenal sebagai whistle blower ini adalah orang yang tengah mengincar posisi nomor 1 di kantornya, karena ia merasa bahwa Bintang Tiga itu sudah mentok. Ada juga yang berpendapat bahwa itu adalah proyek balas dendam. Yah, apapun itu, pada intinya ternyata ada kasus korupsi di kantor penegak hukum yang seharusnya menegakkan hukum, justru yang terjadi sebaliknya; meruntuhkan hukum yang tengah diperjuangkan bersama.
Dan atas dasar etika dan kesantunan-lah saya tidak akan menyebutkan secara gamblang siapakah orang-orang atau lembaga/insitusi yang dimaksud.
Bingungkah anda dengan arti tulisan-tulisan saya ini? Belum menangkap maksud? Jangan khawatir, karena saya adalah orang yang suka bercerita. Cerita apa saja. Menceritakan banyak cerita dalam satu waktu pun saya terbiasa. Bahkan yang tampaknya berlainan pun saya sudah terbiasa.
Nah, cerita saya terlihat tidak berkait satu-sama lain? Tentu tidak kan? Ada satu tema besar yang ingin saya ceritakan disini bahwa, korupsi apapun bentuknya adalah tindakan pengecut. Bermain-main dengan korupsi artinya bermain-main dengan aturan etika dan kesantunan yang berlaku.
Satu hal yang penting adalah bahwa korupsi : “pasti merugikan orang lain!”. Semoga Allah memelihara dan menghindarkan kita dari sifat-sifat pengecut tadi.
Semoga anda tidak bingung, karena ternyata kebingungan saya sudah terjawab sepanjang penulisan ini. (April 2010)

Kamis, 03 Februari 2011

Mari Membangun !

Mari membangun peradaban dengan cinta dan pengorbanan. Tiadalah cinta tanpa pengorbanan, dan tersia-sialah pengorbanan tanpa cinta. Para nabi dan penghulu dakwah telah membuktikan, bahwa 2 hal tersebut adalah penting dalam perjuangan. Maka tidak benarlah bila seseorang melakukan 2 hal itu tanpa disertai dengan perasaan tanggung jawab yang besar. Lalu ia memegang tongkat estafet perjuangan dan memikul amanah pekerjaan yang diturunkan oleh nabi-nabi dengan penuh ketidakseriusan, bohong !. Sebab, tanggung jawab terbesar adalah melakukan tajdid (pembaharuan) dan naql (alih generasi). Yakni pembaharuan ajaran Islam dan proses perubahan terhadap pribadi muslim dari satu kondisi ke kondisi yang lain dan perubahan umat Islam dari satu fase ke fase yang lain. Maka secara sederhana, ia telah menerima beban yang bahkan gunung-gunung terbesar di muka bumi ini bahkan menolaknya. Ia telah menerima segala semangat pewarisan (naql) melalui pembinaan berjenjang serta berusaha melakukan pembaruan (tajdid). Seorang pejuang Islam pernah mengatakan,’ingatlah selalu bahwa kalian memiliki 2 tugas pokok;
1. Membebaskan negeri Islam dari semua kekuasaan asing
2. Menegakkan di atas tanah air ini negara Islam yang merdeka, yang memberlakukan hukum-hukum Islam, menerapkan undang-undang sosialnya, memproklamirkan prinsip-prinsip dan nilai-nilainya, dan menyampaikan dakwah Islam dengan bijaksana kepada seluruh umat manusia.
Saya jadi teringat, di awal-awal dahulu, pembina kami menyuguhkan materi MAM ini. Kami selalu menikmatinya dengan penuh keceriaan. Hingga secara tak sadar, kami dibangunnya dengan disertai kesadaran akan tanggungjawab yang besar tadi dan diingatkan akan tugas kami. Kami dibelajarkan bahwa dakwah yang dibangun ini disandarkan pada 2 pilar besar ke-jamaah-an. Pertama; memberikan kesetiaannya kepada jamaah dan imamnya. Kedua; kita berjuang bekerja untuk menegakkan hukum Islam. Dua pilar inilah yang menjadi penopang tegaknya jamaah. Karena dengan berjamaah, distribusi amal dakwah kian meluas sehingga menciptakan peluang berbuat baik bagi orang lain.
Lalu setelah ditanamkan perasaan tanggungjawab, mengetahui tugas, dan pentingnya memahami semangat ke-jamaah-an; seseorang harus pula mengetahui tujuan ia diberikan itu semua.tahapan-tahapan penting dalam mewujudkan 2 tugas pokok diatas;
1. Perbaikan diri sendiri
Individu muslim yang kita inginkan adalah yang memiliki fisik kuat, mulia akhlaknya, berwawasan luas, giat berusaha, selamat akidahnya, benar ibadahnya, pejuang sejati, menjaga waktunya, tertib urusanya, bermenfaat bagi orang lain, mampu membibing keluarga untuk menghormati fikrahnya, menjaga tata krama Islam dalam segenab kehidupan rumah tangganya, pandai memilih istri, pandai menjelaskan hak dan kewajiban istrinya, serta pandai mendidik anak-anak dan orang-orang yang berada dalam tanggungannya dengan ajaran Islam.
Ia juga berjuang untuk mengembalikan khilafah yang hilang dan kesatuan yang diidam idamkan, juga berjuang untuk memandu dunia dengan menyebarkan dakwa isla di seantero wilayahnya.

2. Pembentukan keluarga muslim
Rumah tangga muslim yang kita inginkan adalah rumah tangga yang suami dan istrididalamnya mengetahui hak dan kewajibanya masing-masing, lalu mereka komitmen memeliharanya. Pandai mendidik anak-anak dan pembantu rumah tangganya dengan prinsip-prinsip Islam.

3. Bimbingan masyarakat
Adalah masyarakat yang memiliki akal pikiran, hati dan perasaan islami, masyarakat yang beriman dan beramal sholeh dan saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

4. Pembebasan tanah air dari setiap penguasa dzalim
Kita menghendaki tegaknya pemerintahan islami di semua kawasan islam. Tujuan ini memerlukan penjelasan rinci agar tidak terjadi kerancuan dan kesalahpahaman.
Pertama, pemerintahan islam adalah pemerintah yang anggotanya orang-orang muslim, melaksanakan kewajiban, tidak bermaksiat secara terang-terangan dan melaksakan hukum-hukum islam.
Kedua, tidak apa mengunakan orang-orang non muslim jika dalam keadaan terpaksa, yang penting mereka tidak didudukan dalam posisi pemimpin.
Ketiga, bentuk dan jenis pemerintahan tidak menjadi persoalan sepanjang sesuai dengan kaidah-kaidah umum dalam pemerintahan islam.

5. Memperbaiki keadaan pemerintah sehingga menjadi pemerintah Islam yang baik
Daulah inti adalah daulah yang memimpin negara-negara Islam dan menghimpun ragan kaum muslimin, mengembalikan keagungannya, serta mengembalikan wilayah yang telah hilang dan tanah air yang di rampas. Maka penjelasan ini pula mencantumkan beberapa kewajiban daulah.

6. Untuk mempersiapkan seluruh aset negeri di dunia ini untuk kemaslatan Islam
Beberapa kewajiban-kewajiban daulah islamiyah;
a. mengamalkan hukum-hukum isalm
b. melaksanakan sistem sosial islam secara lengkap
c. memproklamasikan prinsip-prinsip yang tegas ini
d. menyampaikan dakwah islam dengan arif bijaksana
Yang perlu dicatat, proklamasi khilafah sebaiknya secara resmi dilakukan pada tahap-tahap akhir saja demi memperoleh kemaslahatan yang banyak’

7. Penegakkan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwa Islam di seantero negeri.
Kemudian daulah islamiyah itu mengibarkan panji-panji jihad dan dakwah, sehingga dunia seluruhnya akan menjadi berbahagia dangan ajaran islam. Daulah islamiyah juga bertanggung jawab untuk menjadi’ guru’ bagi dunia seluruhnya dan menyebarkan dakwah islamm sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama itu semata-mata bagi Allah.

Ketujuh hal tersebut diatas saling berkaitan antara yang satu dengan yang lain. Tegaknya suatu negara islam di suatu kawasan merupakan satu tahap untuk menegakkan pemerintah islam inti. Tahapan ini mempersiapkan tahapan berikutnya, yakni kesatuan islam, yang merupakan tahapan menuju tegakknya kekuatan islam internasional, dan ini merupakan tahapan bagi proses selanjutnya.

Mari membangun !

Jumat, 02 April 2010

Belajar Mendengar

Malam itu, dengan agak mengantuk, saya paksakan diri untuk berangkat ke Rawamangun. Mungkin karena sorenya saya terlalu lelah menunggu teman yang baru pulang dari kampusnya di Bogor. Perjalanan Depok-Rawamangun yang sudah menjadi keseharian saya tiba-tiba menjadi perjalanan yang mengasyikkan. Berangkat dari rumah sekitar pukul 20.30, saya pun harus terlebih dahulu mampir ke rumah teman saya itu. Ya, malam itu rencananya kami akan menginap di Labschool Rawamangun.


Saya pun tiba dirumahnya sekitar pukul 21.15, itu pun tidak langsung berangkat karena teman saya ini harus bersiap-siap telebih dahulu. Maklum, dia baru tiba sekitar 2 jam yang lalu. Setelah sekitar 30 menit menunggu, kami pun berangkat. Malam itu udaranya begitu sejuk, malam ke-27 Ramadhan yang menggetarkan hati. Perjalanan pun tertempuh selama 30 menit, tapi kami tidak langsung ke Masjid, kami berhenti untuk makan dulu. Bubur ayam depan Pasar Sunan Giri yang jadi pilihan. Sambil menyantap bubur, saya juga mengobrol dengan penjualnya. Ia lulusan STM, berasal dari Brebes. Sebelum berjualan bubur, ia sempat bekerja di sebuah perusahaan farmasi selama 4 tahun dengan sistem kontrak. Empat tahun bekerja dengan terus berharap agar diangkat menjadi karyawan tetap. Ya, dengan sistem kontrak ini, ia amat rentan dikeluarkan dari perusahaan. Dengan latar belakang lulusan STM, ia mula-mula bekerja di bagian mesin pembuatan obat, sebagai asisten terlebih dahulu. Walaupun pada awalnya sempat grogi karena memang tidak ada latar belakang pendidikan farmasi sebelumnya, namun ia dapat bekerja dengan baik. Selama apapun ia bekerja, tidak akan berarti tanpa status karyawan tetap, dan akhirnya ia pun keluar dari perusahaan itu lalu memulai usaha berjualan bubur. Usahanya yang sekarang dijadikannya sebagai pundi-pundi keuangan keluarga, bahkan ia pun mampu menyekolahkan adiknya hingga lulus SMK (sedang magang di PLN). Aih, sungguh hebat.


Pikiran saya lantas menerawang jauh ke perjalanan saya dahulu di Jogja sekitar dua tahun lalu. Teringat akan dua kawan saya (saya panggil Mas keduanya untuk menghormati mereka) yang saya kenal kala menginap di Masjid Komplek DPRD Yogyakarta. Keduanya berasal dari luar Jogja, Solo (kalau tidak salah) asalnya. Menempuh perjalanan dengan menggunakan motor untuk merajut impiannya meneruskan pendidikan di Univ. Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Hari yang menakjubkan pun tersaji di hadapan saya keesokan harinya. Berkenalan dengan kakak-beradik yang berasal dari Bandung, kakaknya baru saja lulus dan menyandang gelar Sarjana Pertanian dari Univ. Padjadjaran, sedangkan adiknya ternyata punya impian yang sama dengan dua kawan saya sebelumnya; yaitu berkuliah di UGM, Kedokteran-lah bidikannya. Saya yang dengan agak nekad memilih jurusan Ilmu Pemerintahan dengan sumbangan awal Rp. 10 Jt saja sudah pusing. Nah ini, teman saya asal Bandung yang memilih Kedokteran tentu sumbangannya sudah diatas Rp. 10 Jt. (Wah, jadi agak sentimental nih). Bahkan ketakjuban saya bertambah saat saya pulang ke Jakarta, ayah saya bercerita tentang seorang lulusan UGM yang ternyata mengaku sulit mencari kerja saat ini, yang membuat saya lebih terkejut lagi, perbincangan yang luar biasa ini terjadi secara tak sengaja di sebuah warung kopi !.

Apa yang dapat ditarik dari dua kisah diatas ?. Yang pertama bercerita tentang ketiadaannya kesempatan bekerja, untuk lulusan pendidikan tinggi pun sudah sulit, apatah lagi untuk lulusan pendidikan menengah saja. Sedangkan kisah saya di Jogja adalah betapa mahalnya harga pendidikan sekarang ini. Sekelumit cerita diatas tentu belum disandingkan dengan bermacam kisah tentang ketidakmampuan dan kesempatan bersekolah bagi rakyat yang tidak mampu menikmati pendidikan. Padahal telah tegas diisyaratkan dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat (4) dan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa anggaran pendidikan sebesar 20 persen. Inilah yang patut dijadikan perhatian bersama.

Berdasarkan keputusan rapat kerja yang telah disepakati oleh Komisi X DPR dengan tujuh menteri; antara lain Menko Kesra, Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara, Menteri PPN/ Ketua Bappenas, Menteri Agama, dan Menteri Keuangan pada 4 Juli 2005 lalu telah menyepakati kenaikan anggaran pendidikan adalah 6,6% pada 2004, menjadi 9,3% (2005), menjadi 12% (2006 ), menjadi 14,7% (2007), menjadi 17,4 % (2008 ), dan terakhir 20,1% (2009).

Sedangkan realisasinya adalah pada tahun 2004 anggaran pendidikan masih sekitar 5,5%(2004), dari APBN atau sekitar Rp20,5 triliun. Dan meningkat menjadi Rp 24,6 tiriliun pada 2005. Pada tahun 2006 pemerintah hanya mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 9,7 persen dan dalam APBN 2007 anggaran untuk sektor pendidikan hanya sebesar 11,8 persen, Dan APBN 2008 hanya mengalokasikan 12%, nilai ini setara dengan Rp61,4 triliun dari total nilai anggaran Rp854,6 triliun.

Sebenarnya ini semua bergantung pada pemerintah sebagai penentu kebijakan mengenai pembiayaan pendidikan di negeri ini. Apakah memiliki political will yang kuat atau tidak. Terlebih saat UU. Badan Hukum Pendidikan yang menimbulkan cukup banyak perbincangan karena isu komersialisasi pendidikan yang mengemuka. Tentu kita tidak mengharapkan bencana intelektual, saya menyebutnya demikian karena jangankan mengimpikan majunya pendidikan di Indonesia setara dengan banyak negara lainnya di dunia karena untuk masuk pendidikan dasar pun masih banyak yang tidak mampu.

Tak terasa malam itu, perbincangan kami yang panjang dan mengasyikkan ini pun harus diakhiri karena ternyata hari sudah berganti, kami ternyata mengobrol hingga melewati tengah malam. Bahkan teman saya pun tertidur karena saking mengantuknya. Setelah membayar, saya dan teman saya pun langsung menuju Labschool untuk tujuan semula.

Inspirasi :
- ” Sekolah itu Candu ”-nya Roem Topatimasang
- ” Belajar Sejati VS Kurikulum Nasional ”-nya Y. Dedy Pradipto
- Obrolan dengan Mas Penjual Bubur Ayam depan Pasar Sunan Giri
- Hasil perbincangan dengan kawan saya yang berasal dari Solo dan Bandung
- http://edu-articles.com/wajah-pendidikan-kita/

Selasa, 23 Maret 2010

Indonesia Berpendidikan

Rangkaian kata yang indah dan penuh harapan. Biasanya masalah pendidikan menjadi sesuatu yang fundamen bagi sebuah negara atau bangsa. Indonesia sendiri telah mengisyaratkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa….”, maka seakan pendidikan telah digariskan menjadi salah satu tujuan dari pendirian Indonesia.

Tapi yang terjadi adalah kebalikan dari tujuan itu. Pendidikan kini kian terpinggirkan. Cerita indah bahwa seorang anak petani dapat berkuliah di Fak. Kedokteran sebuah Perguruan Tinggi Negeri, atau putra nelayan yang kuliah Teknik Pertambangan sebuah Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta sekarang semakin tidak dapat didongengkan. Suara-suara yang bercerita jika seorang anak pemulung bisa bersekolah hingga tamat SMA, telah sulit terdengar. Berganti dengan nada-nada disharmonisasi sumbang yang memainkan lagu bertemakan ironi dan sendu.

Seringkali kita dengar ada seorang anak SD kelas 5 yang bunuh diri lantaran malu untuk pergi ke sekolah karena menunggak bayaran sekolah, atau anak kecil yang dilarang pergi ke sekolah oleh orangtuanya dan memilih pergi mengamen (karena disuruh). Apakah ini isyarat yang diguratkan oleh para pendiri negeri ini ? Menjadi sebuah tujuan yang layak didengungkan ke dunia internasional ?. Jawabannya; tentu saja bukan.

Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan adalah salah satu contoh dari sekian banyaknya masalah pendidikan yang melanda negeri ini. Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang ingin mengubah statusnya kian bergiat untuk berbenah diri dan mencari sebuah bentuk penyesuaian seperti menjadi makin mahalnya bangku kuliah. Privatisasi yang akhirnya berujung pada komersialisasi pendidikan seakan menegaskan bahwa pendidikan itu jauh dari rakyat kalangan menengah ke bawah. Tujuan dari perubahan status PTN tersebut atau lebih sering disebut dengan otonomi kampus adalah untuk memberikan wewenang secara mandiri dalam pengelolaannya. Kampus diberikan kreativitas sebesar-besarnya untuk mencari sumber pendanaannya. Di antara bentuk kreativitas yang dimaksud adalah kreativitas dalam mengembangkan kompetensi kampus sebagai basis riset sehingga dapat menghasilkan banyak paten, serta income generating technology.
Akan tetapi, sejak pelaksanaan otonomi kampus pada tahun 1999, di beberapa PT-BHMN terjadi kenaikan biaya pendidikan, bahkan sampai tiga kali lipat. Selanjutnya, ada trend di beberapa PTN/universitas tersebut menerima mahasiswa baru dengan jalur khusus yang disertai dengan biaya khusus, hingga 60 jutaan. Sedangkan untuk program regular juga mengalami kenaikan yang signifikan, yaitu hingga 25 juta. Dengan demikian, otonomi kampus nampaknya lebih cenderung pada bentuk komersialisasi pendidikan. Hingga akhirnya mengecilkan kesempatan untuk merasakan bangku kuliah. Bagaimana bila seorang anak bangsa yang mungkin tidak diterima di kampus negeri akhirnya tidak pernah bisa merasakan bangku kuliah lantaran kampus swasta sudah terlalu mahal ?.

Delapan belas koma delapan lima persen (18, 85 %) dari Rp. 1.037.067.338.120.000,00 telah membuktikannya. Bahwasanya perhatian pemerintah untuk pemerintah cukup rendah. Dalam laporan Panitia Kerja (Panja) Belanja Pemerintah Pusat disetujui belanja negara dalam RUU APBN 2010 adalah sebesar Rp. 1.037,6 triliun yang terdiri atas Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp. 723,2 miliar dan transfer ke daerah sebesar Rp. 314,4 miliar. Jumlah ini meningkat sebanyak Rp. 44,67 triliun dibandingkan dengan APBN pada tahun 2009.
Ironisnya, anggaran untuk pendidikan justru menurun saat APBN naik. Padahal, anggaran pendidikan tahun 2009 mencapai Rp. 207,4 triliun. Menyusut hampir Rp. 11,8 triliun, tidak sesuai dengan harapan kita bersama.
Pemerintah merencanakan anggaran pendidikan dalam APBN 2010 mencapai Rp. 195,6 triliun. Pagu indikatif anggaran 2010 tersebut terdiri atas komponen anggaran pendidikan melalui pemerintah pusat Rp. 82,5 triliun dan transfer ke daerah sebanyak Rp. 113,1 triliun.

Yang menjadi masalah lain adalah ternyata alokasi gaji guru masih belum terpisah dari anggaran pendidikan ini. Alokasi ini mencapai Rp. 93,31 triliun atau sekitar 48% dari total anggaran. Sedangkan dana alokasi khusus Rp. 9,33 triliun, dan dana bagi hasil (DBH) mencapai Rp. 423,2 miliar. Anggaran tambahan DAU dan dana otonomi khusus pendidikan masing-masing sebesar Rp. 7,94 triliun dan Rp. 2,1 triliun. Dana untuk Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) mencapai Rp. 57,5 triliun dan Departemen Agama Rp. 22 triliun

Parahnya lagi, 30% Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bocor akibat praktik KKN yang berkaitan dengan kegiatan pengadaan barang dan jasa. Memang, kenyataannya hingga kini kegiatan pengadaan barang dan jasa pemerintah masih berpotensi menjadi ladang subur korupsi. Jadi yang akan dinikmati oleh rakyat tidak Rp. 195,6 triliun secara bulat, karena sudah terlebih dahulu “dipotong” oleh koruptor yang mangaku entah itu wakil rakyat atau abdi masyarakat.

Sebenarnya, harapan rakyat tidak muluk-muluk. Cukup merasakan pendidikan sampai tamat SMA saja sudah tentu amat mereka syukuri. Bahkan untuk pendidikan yang berkualitas pun tidak pernah mereka pikirkan karena untuk bisa mengenyam pendidikan sudah menjadi sebuah kesulitan yang besar bagi mereka. Melambungnya harga-harga kebutuhan pokok membuat pos belanja mereka terkuras banyak untuk kebutuhan sehari-hari mereka saja, sehingga pendidikan menjadi nomor kesekian dalam anggaran mereka (bahkan tak jarang sudah dihapus dari daftar pengeluaran).

Bukan !, bukan mereka tak ingin sekolah. Hanya keadaan memaksa mereka untuk menangguhkan keinginan itu. Memajukan dan meninggikan taraf hidup mereka lewat pendidikan tentu mereka juga ingin. Akan tetapi, mahalnya biaya sekolah membuyarkan impian mereka. Padahal tertulis bahwa “ Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pendidikan “ (BAB XIII tentang Pendidikan, Pasal 31 ayat 1). Ini harus dipenuhi oleh pemerintah, sebab; “ Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang diatur dengan undang-undang ” (BAB XIII tentang Pendidikan, Pasal 31 ayat 2).

Jika pemerintah ingin kemajuan bangsanya sendiri, seyogyanya pendidikan menjadi perhatian yang penting. Setidaknya 20% anggaran pendidikan (diluar gaji guru dan tentu saja korupsi) harus bisa dinikmati rakyat.

Cukuplah mimpi saya menginginkan pendidikan Indonesia berkualitas, jika untuk Indonesia Berpendidikan pun sulit terwujud.

Senin, 02 Maret 2009

Hari yang Warna-warni

Akhirnya bisa posting lagi. Curi-curi waktu kabur dari rumah nih, hehehe.

Oiya, kemarin saya kedatangan tamu jauh lagi, kawan saya dari Riau (kami bertemu di Solo) datang ke Jakarta, saya sempat heran, "kok bisa-bisanya ke Jakarta ya?". Eitt, jangan dibilang kayak jagoan Jakarta dulu nih, maksud saya kok ke pulang ke Riau-nya lama banget, padahal acara kami yang di Solo itu sudah selesai senin minggu lalu. Tapi ternyata usut punya usut, dia pergi ke Indramayu dulu, ke rumah nenek dan saudar2anya disana, dan yang lebih bikin saya tampak bodoh (karena berpikir seperti yang diatas) dia itu LIBUR!!ga sama dengan saya yang sudah masuk dari kapan tahu, hehehe.

Nah, cerita kali ini adalah cerita saya tentang apa yang telah saya alami hari ini. Sungguh menarik!!. Dimulai dengan perjalanan saya ke kampus yang memang harusnya by public transportation alias angkot-bis-metro dan kawan2 sejenis, hehehe. Jadi ceritanya (saya dan teman saya udah siap berjuang melawan macet khas Jakarta nih) kami berdua menunggu angkot Pelatih Kesabaran D.79 jurusan Cisalak Pasar-Leuwinanggung yang melewati kompeks rumah saya, biasanya kalau saya naik 79 kan turunnya di Junction dan akan disambung lagi dengan Mobil Sakti Percepatan Sampai Tujuan alias 56 (gue suka banget naik nih Mobil) yang kemudian akan diteruskan dengan Bis Super Angkut yang menuju kampus (bisa P.300/57). Eh ternyata ada Bapak tetangga kompleks baik hati yang nawarin saya naik mobilnya, yaud tanpa buang2 waktu langsung saja kami berdua nangkring di mobilnya. Saya pun mengobrol dengan beliau (teman saya di belakang, nih mobil soalnya jenis mobil pick up) dan setelah tahu saya kuliah di Rawamangun (tahu kan?) Beliau langsung nawarin untuk bareng saja sampai perempatan Utan Kayu (perempatan paling ekstrem yang saya lalui) karena Beliau hendak pergi ke Balai Kota, "Seliwatan (?) ini," kata sang Beliau. Yasudah, kami terima dengan lapang dada (tapi ga jadi selapangan bola, hehehe). Alhamdulillah irit ongkos, uppss...^_^

Trus pas lagi di Tol (teman saya sudah ganti formasi atau dengan kata lain, sudah bergabung di depan), tiba2 ada rombongan tim pengamanan (ceritanya blum tahu nih) lewat, kirain cuma pejabat eselon 1 saja, eh ga taunya disebelah saya lewatlah mobil warna hitam (bukan negro loh!!) dengan nomor plat RI-1, wah ini sih mobil Presiden (karena kediaman Presiden searah dengan kami). Yah cukup banyak juga Paspampres (sekarang sudah tahu nih,,), sekitar 10 mobil plus motor gede ala polisi militer. Akhirnya kami nikmati saja pemandangan ini (jarang2 liat mobil presiden meskipun yang lewat tadi jangan2 cuma mobilnya doang lagi,,), eh tiba2 di sebelah kami ada proses kejadian sundul menyundul, mobil disebelah saya kan nge-rem mendadak nah terus mobil di belakangnya kayanya udah terlanjur ngebut, yaudah jadilah proses penciuman lewat belakang, hehehe (dua2 nya ringsek). Tapi ini tidak mengurangi niat kami untuk sampai di tujuan dengan cepat.

Singkat cerita, kami sampai di perempatan Utan Kayu, lalu kami turun dan Bapak baik hati itu pun melanjutkan perjalanannya. Kami kemudian naik 46 hingga sampai juga di kampus tanpa merasakan lelah yang berarti dan juga penghematan ongkos (hehe). Intinya satu : Orang baik ada di mana-mana ! (jadi inget satu kalimat yang saya inget dari film Janji Joni, "kalo ga ada kamu saya mah udah ga percaya lagi ada kebaikan di muka bumi ini..")

Sabtu, 28 Februari 2009

Realita, harapan dan impian (bag.2/Masjid)

Sebenarnya lagi ga pengen nulis blog hari ini, tapi karena lagi nganggur dan kewajiban meng-antar jemput adik2 saya gugur karena mereka berdua ga masuk sekolah (alias males), lagian cuma se-jam disekolah, "ribet di siap-siapnya doang" hemat saya. Jadinya ya saya jalan aja ke Warnet, hehehe

Kita lanjutkan cerita saya lagi ya?
Sampai mana ya? Oiya, ke kantor polisi..
Sebenarnya sih tas saya ga penting-penting banged, tapi jadi penting karena isinya itu, duh bikin nyesek banged deh mikirinnya. Kalau ga salah isi tas saya yang telah raib diambil tangan-tangan yang tak bertanggung jawab itu antara lain:
1. Baju salin dan kawan2nya (tau lah)
2. Walkman (gila jadul amat saya ya?hehe)
3. Buku latihan soal (yang sebenarnya ga pernah dibaca, tapi cuma diunjuk-unjukkin
doank ke temen2 saya di sekolah, hehehe)
4. Uang 3000 perak
5. Buku Dialog Peradaban (Anis Matta-Ary Ginanjar)
6. Dan yang paling penting ---> Kartu Tanda Peserta Ujian !!

Nah, yang ke 6 itulah yang paling penting dan bodohnya saya lagi, saya taruh itu di dalam tas!! Dan jadilah saya ke kantor polisi untuk membuat surat berita kehilangan Kartu itu. Arghh,,

Selama dalam perjalanan menuju kantor polisi, saya mengobrol dengan Bapak pengurus Masjid yang baik hati ini, dari logatnya tampaknya beliau bukan asli dari tanah Jawa dan ketika saya tanyakan ternyata benar, beliau dari Sumatera. Ikut JT (kelompok kaum muslimin yang berjuang untuk memakmurkan Masjid, barokallah Pak) dan akhirnya menetap di Jogja sudah 4 tahun (kalo ga salah inget,hehehe). Ditemaninya lah saya juga ke toko pakaian untuk membeli baju untuk ujian dan alat-alat tulis. Makasih banged ya Pak? Semoga Bapak selalu dirahmati Allah, aminn.. (dan maaf Pak, saya lupa nama Bapak, hehehe). Saya juga selalu dinasihati agar selalu berhati-hati dimanapun agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi menimpa saya. Dan akhirnya surat tanda kehilangan itu pun jadi...

Sebenarnya sih menurut saya, posisi tas yang saya taruh di belakan kaki saya persis sudah mengikuti prosedur yang ada, dalam artian bahwa saya pasti bisa merasakan adanya perubahan dalam pergerakan tas bila terjadi, yah mungkin kondisi Masjid yang terletak di daerah Jogja yang terkenal se-antero dunia (Malioboro) dan juga saya yang sotoy (apa lagi ini?) dan ngeyel (??), maka hilanglah barang-barang yang bersatu dalam tas saya itu.

Dan sekitar jam 9 malam, tibalah 2 sosok pemuda yang turun dari yang kemudian diparkir di pelataran parkir Masjid, ternyata mereka dari Solo (kalo g salah) dan tujuannya sama dengan saya: hendak mengikuti ujian juga. Maka jadilah kami bertiga menginap di Masjid. Sempat ngerasa bosen juga di Masjid akhirnya sekitar jam 11 kami lompat pagar Masjid (hehehe, bandel yaa?) dan jalan-jalan melihat-lihat Malioboro kala malam, ahhh seandainya saya bisa seperti ini dengan teman-teman akrab saya.... Oiya, saya juga membeli tas kecil sekedar untuk menyimpan alat2 tulis dan lain2..

Dan setelah itu kembali ke Masjid (atau lebih tepatnya kompleks DPRD Jogja) kemudian tak lama kami terlelap meskipun ga lelap-lelap amat, banyak nyamuk sih, hehehe

Realita, harapan dan impian terkadang tak berjalan seiring. Buat saya, Allah telah menggariskan jalan hidup saya. Dan juga tercipta sebuah keadaan dimana saya dapat memilih BAGAIMANA saya mencapai garis hidup saya itu..

Kamis, 26 Februari 2009

Realita, harapan dan impian (1)

Hari ini saya berada di warnet, karena tiba-tiba koneksi HP saya putus, alias ga bisa internet-an atau dengan kata lain, ya emang saya ga ada cara lagi buat posting blog, hehehe..

Di tulisan ini saya akan menceritakan sekelumit mozaik yang ada di hidup saya, sekitar 2 tahun yang lalu.

Ceritanya begini, saat saya sedang melakukan perjalanan ke Jogja untuk keperluan akademik (atau dengan kata lain ngabisin duit orangtua,hehehe) ke UGM. Saya berangkat dengan ber-kereta api-ria lagi, asyik banged, karena berangkatnya pagi hari jadi bisa liat pemandangan dari jendela kereta api. Selama kurang lebih 9 jam on the rail, saya sampai di Stasiun Tugu Jogja sesaat sebelum sholat Maghrib, rencananya saya akan tidur di Masjid DPRD Jogja, mengingat keterbatasan anggaran. Setelah saya selesai sholat Maghrib, saya langsung cabut ke warung pecel depan Masjid, hmmh nyammy sekali Ayamnya (tapi mahal) sembari nunggu pecel saya sempatkan tilawah beberapa lembar (eh, disebelah saya ada orang bule, hampir saya sapa tapi mengingat ke-luar biasa-an saya dalam berbahasa Inggris ya g jadi ngobrol). Truz datanglah makan malam saya, dan tandaslah dalam sekejap mata.

Dari arah Masjid, terdengar kumandang adzan Isya, langsung saja saya menyelesaikan transaksi yang menyangkut hajat hidup saya ini (mahall). Bergegaslah saya ke Masjid, dan tertinggal 1 rokaat, Dan saya pun kebagian di Shaf ke-2. Tanpa merasa curiga, saya langsung taruh tas saya di belakang kaki saya persis. Sholat pun kelar, dan ketika saya hendak mengambil Al Quran dengan cara memutar kanan karena memutar kiri itu dilarang, terperanjat pinang-lah saya!!


"TAS SAYA ILANG!!!! TIDAK!!!"

Antara kaget-malu-marah-sebel-bingung saya langsung celingak-celinguk nyari tas saya, wajarlah, karena saya sebatang kara di Jogja, ah papa kenapa nasibku begini? Langsung saya telepon orang di Jakarta, minta pulang saja saya, tapi kata papa, lanjutkan perjuangan saja. Yah, dengan sedikit air mata di mata saya (yaiyalah, masa mata orang?) saya tetap bertahan di Jogja. Beruntung, HP dan dompet saya taruh di saku celana, tak terpikir bagaiman kalau saya taruh di tas juga, mau jadi apa saya di Jogja?

Kemudian saya langsung menghubungi pengurus Masjid dan meminta izin untuk menginap di Masjid sembari meminta diantarkan ke kantor polisi untuk membuat surat berita kehilangan..

Ini realita! Di Masjid pun masih ada maling, apalagi di luar sana..

(the stories goes on..just wait)

)I(

Rabu, 25 Februari 2009

jalan-jalan (part5)

(sebenarnya saya lebih suka cerita perjalanan saya menuju tujuan doank, tapi gapapa deh)

22-23Feb2009@Solo/Day2/Day 3
..saya menginap di Wisma Taman Budaya Surakarta. Duh, adem banged disana. Ya karena disana turun ujan pastinya, hehehe (parah, 3 hari disana selalu disapa oleh ujan). Di UNS saya ketemu dengan banyak perwakilan se-indonesia (khususon Sumatera-Jawa-Kalimantan), ada yang dari UMN Sumut, Unri (riau),UIN Riau,Univ Jambi, Unila (lampung), UNES (semarang), UMS (solo), UNS (ya iya lah), UNY (jogja, jadi kangen nih), UNEJ (jember), IKIP Madiun, UM (malang), Unmul (kaltim), Unikarta (kaltim). Untan (pontianak), STKIP Pontianak dan masih banyak lagi (alias lupa,,haha). pokoknya enak-enak orangnya. (bosan juga ya ceritanya?sama saya juga ko)

oiya, di hari ke 2 ini saya dapat musibah nih, jari saya kebeset (bahasa apa pula ini?) seng, duh kacau-sakit-perih-malu campur aduk jadi satu. Untung teman-teman saya semuanya teman SIAGA (SIap-Ambil-GAya) hehehe, ya pokoknya saya dibantuin deh (syukron akhii...!!)

"Ke kurang mujur an" saya bertambah!! ceritanya saat break sholat ashar (kalo g salah), kami mau mulai rapat komisi lagi. Sengaja saya rebahan (?) di meja (??), maksudnya naro kepala di meja lah, trus saya ga tahu kalau ada semut kecil yang agak sedang tapi ga besar juga warna merah di jaket saya, nah langsung aja tuh semut melakukan ekspedisi ke kuping saya!! Gawat!! Kepala saya langsung pening, udah gitu keingetan cerita orang yang kemasukan benda asing ke kupingnya yang katanya palanya suka pusing seumur hidup (apa saya berlebihan ya?sebenarnya saya juga lupa pernah denger apa enggak, hehehe). Tidakkkkkkkkkkkk!!

"Sampai berita ini diturunkan (25/2), sang semut masih bercokol dalam telinga kiri saya yang berharga ini. Mungkin eksepedisi sang semut belum selesai, pokoknya kita tunggu saja berita dari dia."

Oia, hampir lupa, saat saya berada di Solo, saya dengar berita suka dan duka. Kucing (cucu teman saya) melahirkan! 5 anaknya. Saya beri usul saja ke dia supaya pakai nama saya yang terlanjur beken ini untuk anak kucing yang terlahir pertama. Meskipun beberapa hari kemudian, si galih yang satu ini meninggal. Jasadnya pun tidak sempurna, tinggal setengah). Saya usulkan pula agar diadakan pewarisan nama saya yang sudah lumayan terkenal ini ke kucing yang belum ada namanya, akhirnya jadilah dia galih versi 2. Mari kita berdoa bersama agar galih hidup terus dan gede, segede macan.

"dan terkutuklah yang memakan/mengambil/mengintervensi jasad galih versi 1"

Dan kemudian, tibalah saya di hari ketiga alias hari terakhir saya di Solo. Bang Adha dari Jambi mengutarakan niatnya untuk balik ke Jambi by bus. Dan jadilah saya pulan ke Jakarta sendiri, dan kembali ber-kereta api-ria. Sempat iseng juga nih kalau sendiri begini. Beruntung saya dapat teman duduk, apa ya bahasa inggrisnya? seatate kali ya?kan kalau teman sekamar roomate tuh. Whatever lah.. intinya saya dapat teman seperjalanan yang luar biasa! Betapa perjalan sang Mba ini sangat inspiratif! Dia merantau dari Sumatera dan berdagang di Solo SENDIRIAN! Dahsyat ga tuh!! Yah pokoknya semoga Mba dan Mas yang dari Pekalongan itu menjadi suami-istri yang samara (sakinah-mawaddah-warrahmah)amiin. Maaf Mba, saya lupa tanya nama Mba. Semoga agenda bulan Agustus nya sukses! (Mba ini mengutarakan rencananya untuk menikah bulan Agustus ini).


Ah, itulah sepenggal cerita saya dalam perjalan ke-di-dan pulang dari Solo.
semoga agak berkesan..


Capekk, maghrib dulu ya??

)I(

jalan-jalan (part4)

(21Feb2009@Solo)...dan akhirnya sampailah kami di Solo Balapan,senangnya bisa berhenti bergoyang (maklum 10 jam g berhenti goyang). Untung rumah Mbah saya ada di Sukoharjo (kurang lebih 30 menit dari Balapan), saya pun bertemu dengan Om saya, rencananya saya mau mampir dulu ke rumah Mbah saya. Sedangkan teman saya langsung ke tujuan (UNS), sempat crowded juga di Balapan, karena utusan dari UNS yang bertugas menjemput di Balapan ternyata salah tujuan, mereka pikir kami ada di Stasiun Jebres (hehehe). "Ya sudah, ane tunggu sini saja" kata Bang Idul dengan logat Sumatera nya yang kental. Maka, berpisahlah kami untuk sementara waktu...


Di perjalanan menuju rumah Mbah, yang saya lihat setelah masuk Kab. Sukoharjo cuma satu, yaitu sawah. Aduh, sawahnya itu luas-luas dan lagi hijau-hijaunya, elok tenan lah (oh Hujan, hujan jangan marah ya?..). Teman saya yang saya ceritaian sampai ngiri dengan cerita saya (nitip poto pula). Sampai di rumah Mbah, saya langsung istirahat sambil napas sambil baca sambil ngeteh sambil makan lemper dan risol trus mandi. Di rumah Mbah saya banyak sepeda onthel (duh, ngiri banged), jadi pengen...tapi ga tau cara bawa ke jakarta. Ya pokoknya begitu lah di rumah Mbah..


Dan setelah itu saya sampai di UNS, ketemu dengan banyak orang di sana (di sini juga, di kereta juga, di stasiun juga, dimana-mana juga, hehehe). Sempat males juga di sana awalnya...(bete)


(langsung skip hari ke 2 aja ya?)

Minggu, 22 Februari 2009

jalan-jalan 2 (part3)

Aih, setelah sekian lama mencari koneksi dan kesempatan nge-net, akhirnya bisa juga dengan laptop pinjaman.

..ah iya, kita lanjutkan lagi, setelah saya dengan Bang Idul sampai di Gambir, ternyat tiket kereta eksekutif untuk Solo sudah habis, sempat ketar-ketir juga waktu itu. Di Gambir saat waktu menunjukkan pukul 18.30, saya melihat lagi jadwal kereta api keberangkatan ke Solo. Ternyata ada!! Bisnis, Senja Utama Solo. Maka tanpa buang waktu lagi, kami langsung meluncur ke Jatinegara, dengan penuh perjuangan (hujan-hujanan dan hampir saja dikerjar polisi), hehehe.maka sampailah kami di Jatinegara, sekitar pukul 19.30, tiket-nya pun sudah terjual habis untuk yang tempat duduk, ya terpaksa harus tanpa tempat duduk, cukup deg-degan juga karena ini kali pertama saya naik kereta api bisnis tanpa tempat duduk pula lagi. karena waktu masih ada kurang lebih satu jam lagi, maka kami sempatkan untuk makan, meskipun hanya makan mi rebus saja.
..dan akhirnya kereta pun datang, sesaat sebelum naik kereta kami berkenalan dengan Mas Basuki. Mas Basuki ternyata orang solo,akhirnya ada juga orang yang bisa membagi pengalamannya ber-kereta api bisnis-an dengan kami,pemula ini.
Jadilah kami selama 10jam berada dalam kereta.
Oiya,ketika saya sedang merebahkan badan diantara kursi2 yg ada,skitar jam12 tiba2 terjadi ekspansi tukang dagang,hampir terinjak,maka saya langsung duduk.ah,sungguh luar biasa perjalanan ini..

Jumat, 20 Februari 2009

jalan-jalan (part2)

seperti yg sudah saya jnjikan kmrin.
beberapa hari ke depan saya akan pergi ke solo dalam rangka tugas dari kampus.



tadi,sekitar jam11an teman kami dari univ.jambi sampai di kampus kami,dengan penuh sukacita sekaligus keriangan tersendiri karena saya tidak jadi sendirian berangkat ke sana.oia,nama teman kami itu adalah Idul Adha.Bang Adha saya memanggilnya.rencananya kami akan berangkat ba'da maghrib.


ah,saya pikir cukup sgitu dulu saya bercerita.tunggu cerita saya selanjutnya..