Akhirnya bisa posting lagi. Curi-curi waktu kabur dari rumah nih, hehehe.
Oiya, kemarin saya kedatangan tamu jauh lagi, kawan saya dari Riau (kami bertemu di Solo) datang ke Jakarta, saya sempat heran, "kok bisa-bisanya ke Jakarta ya?". Eitt, jangan dibilang kayak jagoan Jakarta dulu nih, maksud saya kok ke pulang ke Riau-nya lama banget, padahal acara kami yang di Solo itu sudah selesai senin minggu lalu. Tapi ternyata usut punya usut, dia pergi ke Indramayu dulu, ke rumah nenek dan saudar2anya disana, dan yang lebih bikin saya tampak bodoh (karena berpikir seperti yang diatas) dia itu LIBUR!!ga sama dengan saya yang sudah masuk dari kapan tahu, hehehe.
Nah, cerita kali ini adalah cerita saya tentang apa yang telah saya alami hari ini. Sungguh menarik!!. Dimulai dengan perjalanan saya ke kampus yang memang harusnya by public transportation alias angkot-bis-metro dan kawan2 sejenis, hehehe. Jadi ceritanya (saya dan teman saya udah siap berjuang melawan macet khas Jakarta nih) kami berdua menunggu angkot Pelatih Kesabaran D.79 jurusan Cisalak Pasar-Leuwinanggung yang melewati kompeks rumah saya, biasanya kalau saya naik 79 kan turunnya di Junction dan akan disambung lagi dengan Mobil Sakti Percepatan Sampai Tujuan alias 56 (gue suka banget naik nih Mobil) yang kemudian akan diteruskan dengan Bis Super Angkut yang menuju kampus (bisa P.300/57). Eh ternyata ada Bapak tetangga kompleks baik hati yang nawarin saya naik mobilnya, yaud tanpa buang2 waktu langsung saja kami berdua nangkring di mobilnya. Saya pun mengobrol dengan beliau (teman saya di belakang, nih mobil soalnya jenis mobil pick up) dan setelah tahu saya kuliah di Rawamangun (tahu kan?) Beliau langsung nawarin untuk bareng saja sampai perempatan Utan Kayu (perempatan paling ekstrem yang saya lalui) karena Beliau hendak pergi ke Balai Kota, "Seliwatan (?) ini," kata sang Beliau. Yasudah, kami terima dengan lapang dada (tapi ga jadi selapangan bola, hehehe). Alhamdulillah irit ongkos, uppss...^_^
Trus pas lagi di Tol (teman saya sudah ganti formasi atau dengan kata lain, sudah bergabung di depan), tiba2 ada rombongan tim pengamanan (ceritanya blum tahu nih) lewat, kirain cuma pejabat eselon 1 saja, eh ga taunya disebelah saya lewatlah mobil warna hitam (bukan negro loh!!) dengan nomor plat RI-1, wah ini sih mobil Presiden (karena kediaman Presiden searah dengan kami). Yah cukup banyak juga Paspampres (sekarang sudah tahu nih,,), sekitar 10 mobil plus motor gede ala polisi militer. Akhirnya kami nikmati saja pemandangan ini (jarang2 liat mobil presiden meskipun yang lewat tadi jangan2 cuma mobilnya doang lagi,,), eh tiba2 di sebelah kami ada proses kejadian sundul menyundul, mobil disebelah saya kan nge-rem mendadak nah terus mobil di belakangnya kayanya udah terlanjur ngebut, yaudah jadilah proses penciuman lewat belakang, hehehe (dua2 nya ringsek). Tapi ini tidak mengurangi niat kami untuk sampai di tujuan dengan cepat.
Singkat cerita, kami sampai di perempatan Utan Kayu, lalu kami turun dan Bapak baik hati itu pun melanjutkan perjalanannya. Kami kemudian naik 46 hingga sampai juga di kampus tanpa merasakan lelah yang berarti dan juga penghematan ongkos (hehe). Intinya satu : Orang baik ada di mana-mana ! (jadi inget satu kalimat yang saya inget dari film Janji Joni, "kalo ga ada kamu saya mah udah ga percaya lagi ada kebaikan di muka bumi ini..")
Senin, 02 Maret 2009
Sabtu, 28 Februari 2009
Realita, harapan dan impian (bag.2/Masjid)
Sebenarnya lagi ga pengen nulis blog hari ini, tapi karena lagi nganggur dan kewajiban meng-antar jemput adik2 saya gugur karena mereka berdua ga masuk sekolah (alias males), lagian cuma se-jam disekolah, "ribet di siap-siapnya doang" hemat saya. Jadinya ya saya jalan aja ke Warnet, hehehe
Kita lanjutkan cerita saya lagi ya?
Sampai mana ya? Oiya, ke kantor polisi..
Sebenarnya sih tas saya ga penting-penting banged, tapi jadi penting karena isinya itu, duh bikin nyesek banged deh mikirinnya. Kalau ga salah isi tas saya yang telah raib diambil tangan-tangan yang tak bertanggung jawab itu antara lain:
1. Baju salin dan kawan2nya (tau lah)
2. Walkman (gila jadul amat saya ya?hehe)
3. Buku latihan soal (yang sebenarnya ga pernah dibaca, tapi cuma diunjuk-unjukkin
doank ke temen2 saya di sekolah, hehehe)
4. Uang 3000 perak
5. Buku Dialog Peradaban (Anis Matta-Ary Ginanjar)
6. Dan yang paling penting ---> Kartu Tanda Peserta Ujian !!
Nah, yang ke 6 itulah yang paling penting dan bodohnya saya lagi, saya taruh itu di dalam tas!! Dan jadilah saya ke kantor polisi untuk membuat surat berita kehilangan Kartu itu. Arghh,,
Selama dalam perjalanan menuju kantor polisi, saya mengobrol dengan Bapak pengurus Masjid yang baik hati ini, dari logatnya tampaknya beliau bukan asli dari tanah Jawa dan ketika saya tanyakan ternyata benar, beliau dari Sumatera. Ikut JT (kelompok kaum muslimin yang berjuang untuk memakmurkan Masjid, barokallah Pak) dan akhirnya menetap di Jogja sudah 4 tahun (kalo ga salah inget,hehehe). Ditemaninya lah saya juga ke toko pakaian untuk membeli baju untuk ujian dan alat-alat tulis. Makasih banged ya Pak? Semoga Bapak selalu dirahmati Allah, aminn.. (dan maaf Pak, saya lupa nama Bapak, hehehe). Saya juga selalu dinasihati agar selalu berhati-hati dimanapun agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi menimpa saya. Dan akhirnya surat tanda kehilangan itu pun jadi...
Sebenarnya sih menurut saya, posisi tas yang saya taruh di belakan kaki saya persis sudah mengikuti prosedur yang ada, dalam artian bahwa saya pasti bisa merasakan adanya perubahan dalam pergerakan tas bila terjadi, yah mungkin kondisi Masjid yang terletak di daerah Jogja yang terkenal se-antero dunia (Malioboro) dan juga saya yang sotoy (apa lagi ini?) dan ngeyel (??), maka hilanglah barang-barang yang bersatu dalam tas saya itu.
Dan sekitar jam 9 malam, tibalah 2 sosok pemuda yang turun dari yang kemudian diparkir di pelataran parkir Masjid, ternyata mereka dari Solo (kalo g salah) dan tujuannya sama dengan saya: hendak mengikuti ujian juga. Maka jadilah kami bertiga menginap di Masjid. Sempat ngerasa bosen juga di Masjid akhirnya sekitar jam 11 kami lompat pagar Masjid (hehehe, bandel yaa?) dan jalan-jalan melihat-lihat Malioboro kala malam, ahhh seandainya saya bisa seperti ini dengan teman-teman akrab saya.... Oiya, saya juga membeli tas kecil sekedar untuk menyimpan alat2 tulis dan lain2..
Dan setelah itu kembali ke Masjid (atau lebih tepatnya kompleks DPRD Jogja) kemudian tak lama kami terlelap meskipun ga lelap-lelap amat, banyak nyamuk sih, hehehe
Realita, harapan dan impian terkadang tak berjalan seiring. Buat saya, Allah telah menggariskan jalan hidup saya. Dan juga tercipta sebuah keadaan dimana saya dapat memilih BAGAIMANA saya mencapai garis hidup saya itu..
Kita lanjutkan cerita saya lagi ya?
Sampai mana ya? Oiya, ke kantor polisi..
Sebenarnya sih tas saya ga penting-penting banged, tapi jadi penting karena isinya itu, duh bikin nyesek banged deh mikirinnya. Kalau ga salah isi tas saya yang telah raib diambil tangan-tangan yang tak bertanggung jawab itu antara lain:
1. Baju salin dan kawan2nya (tau lah)
2. Walkman (gila jadul amat saya ya?hehe)
3. Buku latihan soal (yang sebenarnya ga pernah dibaca, tapi cuma diunjuk-unjukkin
doank ke temen2 saya di sekolah, hehehe)
4. Uang 3000 perak
5. Buku Dialog Peradaban (Anis Matta-Ary Ginanjar)
6. Dan yang paling penting ---> Kartu Tanda Peserta Ujian !!
Nah, yang ke 6 itulah yang paling penting dan bodohnya saya lagi, saya taruh itu di dalam tas!! Dan jadilah saya ke kantor polisi untuk membuat surat berita kehilangan Kartu itu. Arghh,,
Selama dalam perjalanan menuju kantor polisi, saya mengobrol dengan Bapak pengurus Masjid yang baik hati ini, dari logatnya tampaknya beliau bukan asli dari tanah Jawa dan ketika saya tanyakan ternyata benar, beliau dari Sumatera. Ikut JT (kelompok kaum muslimin yang berjuang untuk memakmurkan Masjid, barokallah Pak) dan akhirnya menetap di Jogja sudah 4 tahun (kalo ga salah inget,hehehe). Ditemaninya lah saya juga ke toko pakaian untuk membeli baju untuk ujian dan alat-alat tulis. Makasih banged ya Pak? Semoga Bapak selalu dirahmati Allah, aminn.. (dan maaf Pak, saya lupa nama Bapak, hehehe). Saya juga selalu dinasihati agar selalu berhati-hati dimanapun agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi menimpa saya. Dan akhirnya surat tanda kehilangan itu pun jadi...
Sebenarnya sih menurut saya, posisi tas yang saya taruh di belakan kaki saya persis sudah mengikuti prosedur yang ada, dalam artian bahwa saya pasti bisa merasakan adanya perubahan dalam pergerakan tas bila terjadi, yah mungkin kondisi Masjid yang terletak di daerah Jogja yang terkenal se-antero dunia (Malioboro) dan juga saya yang sotoy (apa lagi ini?) dan ngeyel (??), maka hilanglah barang-barang yang bersatu dalam tas saya itu.
Dan sekitar jam 9 malam, tibalah 2 sosok pemuda yang turun dari yang kemudian diparkir di pelataran parkir Masjid, ternyata mereka dari Solo (kalo g salah) dan tujuannya sama dengan saya: hendak mengikuti ujian juga. Maka jadilah kami bertiga menginap di Masjid. Sempat ngerasa bosen juga di Masjid akhirnya sekitar jam 11 kami lompat pagar Masjid (hehehe, bandel yaa?) dan jalan-jalan melihat-lihat Malioboro kala malam, ahhh seandainya saya bisa seperti ini dengan teman-teman akrab saya.... Oiya, saya juga membeli tas kecil sekedar untuk menyimpan alat2 tulis dan lain2..
Dan setelah itu kembali ke Masjid (atau lebih tepatnya kompleks DPRD Jogja) kemudian tak lama kami terlelap meskipun ga lelap-lelap amat, banyak nyamuk sih, hehehe
Realita, harapan dan impian terkadang tak berjalan seiring. Buat saya, Allah telah menggariskan jalan hidup saya. Dan juga tercipta sebuah keadaan dimana saya dapat memilih BAGAIMANA saya mencapai garis hidup saya itu..
Kamis, 26 Februari 2009
Realita, harapan dan impian (1)
Hari ini saya berada di warnet, karena tiba-tiba koneksi HP saya putus, alias ga bisa internet-an atau dengan kata lain, ya emang saya ga ada cara lagi buat posting blog, hehehe..
Di tulisan ini saya akan menceritakan sekelumit mozaik yang ada di hidup saya, sekitar 2 tahun yang lalu.
Ceritanya begini, saat saya sedang melakukan perjalanan ke Jogja untuk keperluan akademik (atau dengan kata lain ngabisin duit orangtua,hehehe) ke UGM. Saya berangkat dengan ber-kereta api-ria lagi, asyik banged, karena berangkatnya pagi hari jadi bisa liat pemandangan dari jendela kereta api. Selama kurang lebih 9 jam on the rail, saya sampai di Stasiun Tugu Jogja sesaat sebelum sholat Maghrib, rencananya saya akan tidur di Masjid DPRD Jogja, mengingat keterbatasan anggaran. Setelah saya selesai sholat Maghrib, saya langsung cabut ke warung pecel depan Masjid, hmmh nyammy sekali Ayamnya (tapi mahal) sembari nunggu pecel saya sempatkan tilawah beberapa lembar (eh, disebelah saya ada orang bule, hampir saya sapa tapi mengingat ke-luar biasa-an saya dalam berbahasa Inggris ya g jadi ngobrol). Truz datanglah makan malam saya, dan tandaslah dalam sekejap mata.
Dari arah Masjid, terdengar kumandang adzan Isya, langsung saja saya menyelesaikan transaksi yang menyangkut hajat hidup saya ini (mahall). Bergegaslah saya ke Masjid, dan tertinggal 1 rokaat, Dan saya pun kebagian di Shaf ke-2. Tanpa merasa curiga, saya langsung taruh tas saya di belakang kaki saya persis. Sholat pun kelar, dan ketika saya hendak mengambil Al Quran dengan cara memutar kanan karena memutar kiri itu dilarang, terperanjat pinang-lah saya!!
"TAS SAYA ILANG!!!! TIDAK!!!"
Antara kaget-malu-marah-sebel-bingung saya langsung celingak-celinguk nyari tas saya, wajarlah, karena saya sebatang kara di Jogja, ah papa kenapa nasibku begini? Langsung saya telepon orang di Jakarta, minta pulang saja saya, tapi kata papa, lanjutkan perjuangan saja. Yah, dengan sedikit air mata di mata saya (yaiyalah, masa mata orang?) saya tetap bertahan di Jogja. Beruntung, HP dan dompet saya taruh di saku celana, tak terpikir bagaiman kalau saya taruh di tas juga, mau jadi apa saya di Jogja?
Kemudian saya langsung menghubungi pengurus Masjid dan meminta izin untuk menginap di Masjid sembari meminta diantarkan ke kantor polisi untuk membuat surat berita kehilangan..
Ini realita! Di Masjid pun masih ada maling, apalagi di luar sana..
(the stories goes on..just wait)
)I(
Di tulisan ini saya akan menceritakan sekelumit mozaik yang ada di hidup saya, sekitar 2 tahun yang lalu.
Ceritanya begini, saat saya sedang melakukan perjalanan ke Jogja untuk keperluan akademik (atau dengan kata lain ngabisin duit orangtua,hehehe) ke UGM. Saya berangkat dengan ber-kereta api-ria lagi, asyik banged, karena berangkatnya pagi hari jadi bisa liat pemandangan dari jendela kereta api. Selama kurang lebih 9 jam on the rail, saya sampai di Stasiun Tugu Jogja sesaat sebelum sholat Maghrib, rencananya saya akan tidur di Masjid DPRD Jogja, mengingat keterbatasan anggaran. Setelah saya selesai sholat Maghrib, saya langsung cabut ke warung pecel depan Masjid, hmmh nyammy sekali Ayamnya (tapi mahal) sembari nunggu pecel saya sempatkan tilawah beberapa lembar (eh, disebelah saya ada orang bule, hampir saya sapa tapi mengingat ke-luar biasa-an saya dalam berbahasa Inggris ya g jadi ngobrol). Truz datanglah makan malam saya, dan tandaslah dalam sekejap mata.
Dari arah Masjid, terdengar kumandang adzan Isya, langsung saja saya menyelesaikan transaksi yang menyangkut hajat hidup saya ini (mahall). Bergegaslah saya ke Masjid, dan tertinggal 1 rokaat, Dan saya pun kebagian di Shaf ke-2. Tanpa merasa curiga, saya langsung taruh tas saya di belakang kaki saya persis. Sholat pun kelar, dan ketika saya hendak mengambil Al Quran dengan cara memutar kanan karena memutar kiri itu dilarang, terperanjat pinang-lah saya!!
"TAS SAYA ILANG!!!! TIDAK!!!"
Antara kaget-malu-marah-sebel-bingung saya langsung celingak-celinguk nyari tas saya, wajarlah, karena saya sebatang kara di Jogja, ah papa kenapa nasibku begini? Langsung saya telepon orang di Jakarta, minta pulang saja saya, tapi kata papa, lanjutkan perjuangan saja. Yah, dengan sedikit air mata di mata saya (yaiyalah, masa mata orang?) saya tetap bertahan di Jogja. Beruntung, HP dan dompet saya taruh di saku celana, tak terpikir bagaiman kalau saya taruh di tas juga, mau jadi apa saya di Jogja?
Kemudian saya langsung menghubungi pengurus Masjid dan meminta izin untuk menginap di Masjid sembari meminta diantarkan ke kantor polisi untuk membuat surat berita kehilangan..
Ini realita! Di Masjid pun masih ada maling, apalagi di luar sana..
(the stories goes on..just wait)
)I(
Langganan:
Postingan (Atom)